Harga Gabah Naik, Ini Kata Wakil Ketua HKTI

Petani di Kota Bengkulu, Rabu(01/01/2024).Foto:Aisyah/Alankanews.com

Alankanews.com,Kota Bengkulu—Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus petani di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Buyung Mustofa menyampaikan tanggapannya terkait kenaikan harga gabah dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram. Meskipun harga gabah naik, Mustofa menilai hal tersebut belum sepenuhnya meringankan beban petani.

Menurut Mustofa, meskipun kenaikan harga gabah memberi sedikit harapan, biaya operasional pertanian seperti pupuk, pestisida, dan alat berat masih menjadi tantangan besar bagi petani.

"Kalau gabah naik, sebenarnya petani senang, tapi kalau dibandingkan dengan biaya perawatan, seperti racun dan pupuk, itu tidak seimbang. Waktu yang dibutuhkan dari pengolahan lahan hingga panen juga sekitar empat bulan, yang membuat kalkulasi keuntungannya tidak optimal," ujar Mustofa.

Namun ia mengapresiasi keputusan pemerintah mengambil langkah tersebut dan berharap harga jual gabah bisa lebih tinggi dan memberi keuntungan bagi petani.

Selain itu Ia menanggapi program petani milenial yang direncanakan pemerintah, Mustofa mendukung penuh ide tersebut. Program ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian dengan memberikan gaji hingga Rp10 juta. Namun, ia menegaskan bahwa program ini harus segera direalisasikan.

"Saya setuju jika anak-anak muda ini diberikan peluang untuk mandiri dan tidak terpaku pada pekerjaan sebagai PNS. Tapi buktikan dulu ada realisasinya. Jangan hanya jadi wacana," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ketersediaan alat-alat pertanian seperti traktor masih menjadi kendala. Petani harus menggunakan alat pribadi yang menambah beban biaya produksi. Mustofa menyebutkan, beberapa bantuan dari pemerintah seperti perbaikan saluran irigasi sudah membantu, namun pengelolaan dana bantuan sering tidak transparan.

Mustofa juga berharap pemerintah dapat memastikan program-program untuk petani tepat sasaran, terutama dalam mendukung anak-anak petani agar bisa mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, ia menilai masih ada masalah dalam implementasi kebijakan di lapangan.

"Kalau memang tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup petani, program ini harus jelas dan tidak hanya sekadar janji. Kami ingin anak-anak petani bisa maju dan mandiri," tambahnya.

Penulis : Aisyah Aprielia Lupti

Editor : Andrini Ratna Dilla