Pabrik Sawit Di Bengkulu Selatan Hanya Mendapatkan 300 ton Sawit Per Hari, Ini Penyebabnya!

Sawit petani Bengkulu tidak produktif akibat kekurangan unsur hara, hasil panen sawit petani menyusut hingga 70 persen, Senin (23/10)/ (Foto : Beta)

Alankanews.com. Bengkulu-- Musim kemarau hingga saat ini yang belum berakhir menimbulkan musim trek Kelapa sawit di Bengkulu menjadi terparah sepanjang sejarah perkebunan kelapa sawit di Bengkulu.

Akibatnya sawit petani Bengkulu tidak produktif akibat kekurangan unsur hara, hasil panen sawit petani menyusut hingga 70 persen. 

Musim trek di Bengkulu ini bukan saja berdampak pada petani. tetapi juga berimbas pada pabrik pengolahan kelapa sawit yang kesulitan mendapatkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk diolah. Kalaupun ada buah masuk ke pabrik, jumlahnya jauh dari target harian yang ditetapkan oleh manajemen pabrik di Bengkulu.

Hal ini dibuktikan pada pabrik pengelolaan kelapa sawit PT. Sinar Bengkulu Selatan (SBS) yang berada di Desa Nanjungan Kecamatan Pino Raya, Walaupun pabrik itu berada di daerah basis kelapa sawit pertama di Bengkulu, namun saat ini kesulitan mendapatkan TBS untuk diproduksi menjadi CPO.

KTU PT. SBS Sofjan Tjiawi mengatakan Sejak mulai kembali memproduksi CPO pada awal September lalu, Pabrik pengolahan kelapa sawit PT SBS mampu mengolah TBS dengan kapasitas 64 ton per jam. Namun karena keterbatasan bahan baku, saat ini hanya mampu mengolah 300 ton TBS selama 24 jam. Padahal optimalnya TBS mampu dikelola hingga 1.200 ton lebih.

“Saat ini pasokan TBS turun drastis, kami kekurangan TBS untuk memenuhi lumbung minyak. Per hari paling hanya 300 ton TBS yang masuk,” jelas Sofjan.

Sofjan juga menambahkan, minimnya pasokan TBS juga berpengaruh langsung bagi distribusi CPO ke depot minyak di Pulau Baai Bengkulu. Bahkan, pihak pabrik harus menunda pengiriman CPO sampai kapasitan tanki penampungan betul-betul penuh.

“Kondisi minimnya TBS sangat berpengaruh bagi biaya operasional pabrik. Kalau dipaksa mengelola TBS dibawah 300 ton, maka pabrik akan rugi. Termasuk jam kerja karyawan juga rugi,” sambung Sofjan.

Selain minimnya pasokan TBS, pihak PKS juga mengeluhkan banyaknya TBS tidak matang yang dikirim petani. Bahkan, ada beberapa TBS yang masih hitam masuk ke penggilingan dan menyebabkan hasil CPO tidak maksimal sehingga berpengaruh di pasaran internasional.

Karena pihak pabrik sangat kesulitan mendapatkan TBS ini membuktikan kalau saat ini sedang terjadi musim trek yang sangat parah. Biasanya saat produksi normal, TBS yang dihasilkan di Bengkulu mampu memenuhi kebutuhan bahan baku seluruh pabrik.

“Ini memang masa trek terpanjang dan terparah sejak operasional kami. Sebab, di tahun ini ada dua masa trek yang terjadi,” ungkap Sofjan.

Sementara itu, walaupun TBS sulit didapat namun harga beli TBS di tingkat PKS tetap staknan.

HRD PT.SBS Rikson Jayadi menyebut harga beli diangka Rp1920 per kilogram harga ini tergolong stagnan sejak sebulan lalu. Masih rendahnya harga beli ini karena pengaruh CPO dunia yang tidak kunjung naik.

“Memang ada aturan pemerintah yang menyebutkan CPO harus diangkat Rp2000 per kilogram. Tapi kami harus menyesuaikan dengan harga CPO dunia. Kalau dipaksa nanti perusahan akan rugi,” tutup Rikson.

 

Reporter : Beta Kurnia

Editor : Aisyah Oktavia