Puluhan Wali Murid SDN 01 Kota Bengkulu Datangi Kantor Walikota, Ini Penyebabnya

Puluhan wali murid SDN 01 Kota Bengkulu datangi kantor Walikota guna mempertanyakan keadilan, Kamis (14/03)/(Foto:Atina)

Alankanews.com,Bengkulu-- Puluhan wali murid SDN 01 Kota Bengkulu datangi kantor Walikota guna mempertanyakan keadilan untuk salah satu guru Agama di SDN 01, Erzon Mahyudi yang diberhentikan secara tidak jelas oleh Kepala Sekolah beberapa waktu lalu, Kamis (14/03).

Sebelum mendatangi kantor Walikota, puluhan wali murid tersebut sudah menyegel SDN 01 Kota Bengkulu dalam bentuk protes kepada Kepala Sekolah dan Pemerintah Kota (Pemkot) yang tidak sesuai dengan penyataannya beberapa hari lalu.

"Kami datang kesini ingin menyampaikan asipari kami kepada Pemkot, yang mana kami tidak setuju dengan statement pemkot beberapa waktu lalu yang mengatakan jika tanpa Pak Erizon pemebelajaran akan tetap kondusif tapi kenjataannya pembelajaran agama tidak kondusif," ujar wali murid di Kantor Walikota, Kamis (14/03).

Sebelumnya beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bengkulu, A. Gunawan, S.Sos., mengeluarkan statement jika ia akan memastikan kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di SDN 01 Kota Bengkulu akan tetap kondusif dan proses KBM tidak berhenti dan terus berjalan.

Gunawan juga mengatakan dari beberapa sikap Erzon, salah satunya Erzon telah menunjukkan sikap arogansinya kepada tiga kepala sekolah yang menjabat hingga kepala sekolah yang saat ini, Ovrina Resti Arisandi dan bentuk dari arogansi yang dilakukan selalu menentang kebijakan yang dilakukan oleh sekolah, seperti sedekah Rp2 ribu yang merupakan program Pemkot Bengkulu, meminta kepala sekolah untuk selalu berkoordinasi dengan dirinya sebelum mengambil kebijakan serta pada 30 Januari 2024, Erzon memulangkan anak-anak didik dengan alasan ada rapat guru tanpa sepengetahuan kepala sekolah.

Sementara itu Erzon mengatakan jika ia memulangkan anak-anak dikarenakan pada tanggal 30 Januari 2024 itu seluruh guru menghadap Kepala Dinas pada pagi hari yang mana ia tidak tau jam berapa dan rata-rata semua guru berangkat sehingga anak-anak tidak ada yang jaga maka pada hari itu anak-anak diliburkan.

"Pada hari itu semua guru menghadap kepala dinas dan itu tidak ditentukan jam berapa, kalo kami datang jam 10 dan mereka menunggu jam 9 itukan tidak jadi, maka musyawarah itu dan diputuskanlah, karena rata-rata semuanya berangkat dan ada sekitar 3-4 orang yang tidak berangkat, daripada anak-anak tidak ada yang jaga termasuk 1 satpam, maka anak-anak kami liburkan," jelas Erzon.

 

 

Penulis : Atina Ramayanti 

Editor : Beta Kurnia