Alankanews,Bengkulu Selatan--Bengkulu Selatan, salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Bengkulu, memiliki kekayaan budaya dan kuliner yang khas, salah satunya adalah tradisi lemang tapai. Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, terutama dalam perayaan-perayaan tertentu seperti Lebaran, pernikahan, atau acara adat lainnya. Lemang tapai bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan, keharmonisan, dan warisan budaya yang perlu dilestarikan, Senin (20/01/2025).
Apa itu Lemang Tapai?
Lemang tapai adalah perpaduan antara lemang, nasi ketan yang dimasak dalam bambu dengan api arang, dan tapai, yaitu fermentasi dari ketan atau singkong yang menghasilkan rasa manis dan sedikit asam. Dalam penyajiannya, lemang yang pulen dan wangi dipadukan dengan tapai yang memberikan sensasi rasa yang berbeda dan unik. Paduan rasa ini menciptakan makanan yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan makna mendalam tentang hubungan antara makanan, adat, dan kehidupan sosial masyarakat Bengkulu Selatan.
Proses Pembuatan Lemang Tapai
Proses pembuatan lemang tapai di Bengkulu Selatan memerlukan keterampilan khusus, yang diwariskan turun-temurun. Untuk membuat lemang, bahan dasar yang digunakan adalah beras ketan yang direndam dalam air santan kelapa, kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dibersihkan. Bambu-bambu ini kemudian dipanggang di atas bara api hingga nasi ketan matang sempurna, menghasilkan rasa yang gurih dan harum. Proses memasak lemang ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar 3-4 jam, dengan api yang tidak terlalu besar agar ketan bisa matang merata dan sempurna.
Setelah lemang selesai dimasak, tapai yang terbuat dari ketan atau singkong yang sudah difermentasi, siap untuk disajikan sebagai pendamping lemang. Tapai ini memiliki rasa yang manis dan sedikit asam, dan seringkali disajikan dalam bentuk yang sudah dipotong-potong untuk menambah cita rasa khas.
Fungsi Sosial dan Budaya
Lemang tapai memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bengkulu Selatan. Makanan ini biasanya disajikan dalam acara-acara besar seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri, pernikahan, dan acara adat lainnya. Dalam konteks ini, lemang tapai bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas hasil panen atau keberhasilan dalam hidup.
Selain itu, lemang tapai juga sering menjadi hidangan yang disajikan untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang dari jauh. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini dalam mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan masyarakat.
Tantangan dan Pelestarian
Meskipun tradisi lemang tapai sangat kaya akan makna dan sejarah, keberadaannya kini mulai terancam. Perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta gaya hidup modern membuat banyak generasi muda Bengkulu Selatan mulai melupakan tradisi ini. Beberapa faktor seperti sulitnya mencari bahan baku yang berkualitas, serta semakin langkanya tukang yang mampu membuat lemang dengan cara tradisional, juga menjadi tantangan tersendiri.
Namun demikian, banyak pihak yang berusaha untuk melestarikan tradisi ini. Pemerintah daerah setempat, bersama dengan komunitas adat dan masyarakat, mulai mengadakan berbagai kegiatan untuk mengenalkan dan mengembangkan tradisi lemang tapai, seperti festival kuliner dan pelatihan pembuatan lemang. Dengan adanya upaya ini, diharapkan lemang tapai tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Kesimpulan
Lemang tapai adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Bengkulu Selatan. Tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan identitas budaya daerah. Dengan adanya upaya pelestarian, diharapkan tradisi ini dapat terus hidup dan berkembang, serta menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner yang khas dari Bengkulu Selatan.
Editor : Muldianto
Editor : Andrini Ratna Dilla